Saat Kanker Menyerang Leher Rahim


KOMPAS - Mendekati usia kepala empat, Retno Mardiana sibuk berkarir sebagai pegawai negeri sipil sebuah departemen pemerintah dan menikmati peran sebagai istri dan ibu dari satu anak. Namun impian untuk hidup bahagia bersama keluarga tercinta hingga lanjut usia langsung sirna ketika ia divonis menderita kanker leher rahim. 

Ancaman kematian membayangi hari-harinya. Rasa sesal karena sebelumnya tidak pernah menjalani tes Pap untuk mendeteksi secara dini penyakit itu pun menderanya. Bahkan, saat mengalami perdarahan usai berhubungan intim dengan suaminya maupun ketika terserang keputihan, ia mengabaikan tanda-tanda itu sampai berbulan-bulan lamanya. 

"Karena tidak ada keluhan fisik yang berarti, saya merasa dalam kondisi sehat dan tetap bisa beraktivitas seperti biasa," ujar Retno. Apalagi, saat itu perhatiannya tercurah untuk mendampingi anaknya yang tengah sakit dan harus menjalani pengobatan. Namun, lambat-laun keluhan keputihan dan perdarahan yang dialami bertambah parah. 

Setelah anaknya sembuh, ia menceritakan masalah kesehatan yang dialaminya kepada pendeta yang selama ini jadi pembimbing rohaninya dan dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter. Setelah menjalani tes Pap, ia dirujuk untuk didiagnosis lebih lanjut ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. 

Usai mengikuti serangkaian pemeriksaan, ia dinyatakan positif menderita kanker leher rahim stadium 1b dan harus segera dioperasi. Begitu pulang saya langsung menangis, serasa dunia runtuh, ini adalah akhir dari segalanya. Ternyata suami sudah menduga kalau saya kena kanker setelah mendapat informasi dari televisi dan membesarkan hati saya , tuturnya. 

Atas dukungan keluarga, semangat hidupnya bangkit. Ia lalu memutuskan menjalani operasi untuk mengambil jaringan kanker dalam tubuhnya pada tahun 2002 silam. Rahim dan ovarium kirinya diangkat. Usai dioperasi, ia dirawat selamat satu bulan di rumah sakit. Setelah pulang ke rumah ia demam tinggi dan kesulitan buang air kecil, ternyata ada inkubasi bakteri yang harus diobati. 

Hingga kini ia tetap kontrol ke dokter dan tes Pap secara rutin untuk mendeteksi bila ada pertumbuhan sel yang tak normal. Dua tahun silam, ditemukan ada kista sehingga satu ovarium yang tersisa akhirnya diangkat. Meski demikian, Retno tak henti-hentinya mengucap syukur karena bisa bertahan hidup, kembali bekerja, dan membesarkan putrinya yang telah beranjak dewasa. 

Berisiko 

Kanker leher rahim adalah pertumbuhan sel atau jaringan tak terkendali yang menyebabkan benjolan atau tumor pada leher rahim atau serviks. Pada tahap awal, sel pada leher rahim atau pintu masuk ke dalam kandungan berkembang secara abnormal yang disebut tahap pra-kanker, dan bila tidak diobati akan berubah jadi kanker. 

Mayoritas kasus kanker serviks disebabkan infeksi human papillomavirus (HPV). Sebagian infeksi HPV pada perempuan menghilang sendiri meski tanpa pengobatan, namun ada juga infeksi yang menetap bertahun-tahun hingga menyebabkan kanker. Sejauh ini ada lebih dari 100 jenis HPV dan 13 jenis di antaranya mampu meningkatkan risiko kanker leher rahim. Namun 71 persen penyebab utama kanker ini terkait infeksi HPV tipe 16 dan 18. 

Infeksi HPV umumnya terjadi setelah wanita berhubungan seksual dan umumnya terjadi pada usia sekitar 25 tahun. Dari infeksi HPV sampai terjadinya kerusakan lapisan lendir jadi pra-kanker hingga menuju keganasan atau kanker butuh waktu hampir 20 tahun. Selama hidupnya, hampir separuh dari wanita dan pria pernah terinfeksi HPV, kata Kepala Pusat Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Siswanto Agus Wilopo. 

Semua perempuan yang berhubungan seksual berisiko terkena kanker serviks, karena dengan hubungan intim itu bisa terjadi infeksi H PV. Mereka yang berisiko tinggi terkena kanker serviks adalah, perempuan yang tidak pernah menjalani skrining, mulai berhubungan seksual dan punya anak pada usia muda, memiliki anak lebih dari 5 orang, punya beberapa pasangan atau riwayat ganti-ganti pasa ngan, serta memiliki kebiasaan merokok. 

Tidak seperti beberapa virus lain, jika terinfeksi virus HPV, bukan berarti penderita akan memiliki kekebalan terhadap virus itu. "Dia tetap berisiko untuk mendapat infeksi berulang dari tipe HPV sama atau berbeda, dan tetap berisiko terkena kanker serviks," kata konsultan alergi imunologi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Prof Samsuridjal Djauzi. 

Pada tahun 2008, Badan Kesehatan Dunia memperkirakan 12,4 juta penduduk menderita kanker baru dan 7,6 juta orang meninggal karena penyakit kanker. Secara global, kejadian kanker leher rahim menduduki urutan kedua setelah kanker payudara, yaitu dengan angk a kejadian penyakit baru tiap tahun sekitar 500.000 dan kematian sebanyak 288.000 orang. 

Hampir 90 persen kejadian kanker leher rahim terjadi di negara sedang berkembang. Angka kejadian kanker leher rahim tertinggi di Afrika yaitu lebih dari 45 per 100.000 orang per tahun, disusul Asia Tenggara 30-44,9 per 100.000 perempuan tiap tahun. Di Asia Tenggara, kanker leher rahim menempati urutan pertama di antara penderita kanker pada wanita, kata Siswanto. 

Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun ada 15.000 kasus baru kanker leher rahim terjadi dengan angka kematian 7.500 kasus per tahun. Kanker serviks merupakan kanker yang paling sering terjadi pada perempuan Indonesia. "Tingginya angka kejadian kanker serviks di Indonesia merupakan beban kesehatan, ekonomi dan sosial bagi perempuan di mana pun," kata Ketua Bidang Pelayanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia Melissa S Luwia. 

Bisa Dicegah 

Pada tahap awal, kanker leher rahim tidak memperlihatkan gejala klinis yang signifikan.Tanda-tanda terjadinya kanker antara lain, terjadi bercak-bercak darah atau perdarahan vagina pasca berhubungan intim, perdarahan di antara dua siklus menstruasi atau perdarahan pasca menopause, bau lendir vagina yang menyengat meski sudah diobati untuk mengatasi infeksi vagina. 

Bila ditemukan lebih awal, kanker leher rahim bisa diobati dengan beberapa metode terapi antara lain, operasi untuk mengangkat jaringan kanker yang masih terlokalisir, terapi penyinaran atau radiasi dan kemoterapi. Namun lebih dari 70 persen penderita datang memeriksakan diri dalam stadium lanjut sehingga banyak pasien meninggal karena terlambat ditemukan dan diobati, kata Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia Prof M Farid Aziz. 

Kanker serviks sebenarnya bisa dicegah dengan mengurangi risiko terinfeksi HPV dan menyebarnya pra kanker jadi kanker. Caranya antara lain, tidak berganti-ganti pasangan hubungan seksual, menunda waktu hubungan seksual, tidak punya anak pada usia sangat muda, memakai kondom saat berhubungan seksual dengan pasangan yang berisiko tinggi terinfeksi menular seksual, gizi seimbang, dan tidak merokok. 

Selain itu, para perempuan diimbau agar memeriksakan diri sejak dini untuk mengetahui apakah punya leher rahim normal atau tidak sekaligus mendeteksi adanya fase pra kanker. Deteksi dini bisa dilakukan dengan tes Pap, metode dengan usapan lendir leher rah im menurut Papanucolaou. Deteksi dini dengan tes Pap di negara maju memperlihatkan hasil memuaskan dengan menurunkan angka kematian karena kanker serviks lebih dari separuhnya. 

Kendala di negara sedang berkembang dengan cara ini adalah, biaya tes relatif mahal, minimnya jumlah tenaga ahli dan kurangnya pengorganisasian secara rapi. Karena itu, metode sederhana yang lebih praktis dan murah yaitu inspeksi visual dengan asam setat (IVA) bisa dipilih untuk digunakan dalam skrining atau penapi san secara nasional di negara-negara sedang berkembang. "Yang lebih praktis lagi adalah dengan vaksinasi, cukup dengan suntikan, tidak perlu perlengkapan rumit dan punya efektivitas tinggi," ujarnya. 

Tantangan terberat vaksinasi adalah memperpanjang penga ruh vaksin agar bisa melindungi infeksi dalam jangka cukup lama. Sampai kini baru diketahui perlindungan vaksin rata-rata 6,4 tahun bagi HPV jenis 16 dan 18, kata Siswanto. Mahalnya harga vaksin ikut menghambat perluasan cakupan imunisasi. Harga vaksin akan jadi murah bila digunakan lebih luas oleh pemerintah karena produksi massal menurunkan biaya per orangnya. 

Dengan deteksi secara dini disertai vaksinasi, angka kasus kanker serviks di Tanah Air diharapkan bisa menurun drastis. Lebih awal seseorang te rdeteksi, pengobatan akan lebih mudah. Harapan untuk bertahan hidup dengan kualitas baik sebagaimana dialami Retno pun bisa diraih.

Tidak ada komentar